Rabu, 10 November 2010

Ambang Batas


Tanah....

Terambil…

Terbentuk…

Menghias…

Pecah…

Terbuang…


Sedang belajar menulis sekarang setelah kehilangan semua susunan kata yang cukup sarat arti itu.Tak banyak yang bisa diperbuat, Aku rindu aroma pagi itu,Aku rindu kesederhanaan berjalanku,Aku rindu kejernihan pikiranku membentuk keluasan jiwa. Aku rindu tubuhku tetap kuat menopang organku yang lemah. Dan melewati detik detik dunia yang mengalir bersama detak hidup secara langsung dan begitu saja. Seakan- akan kita berdiri di luar bahasa, diluar segenap konsep atau pemahaman yang dibentuk oleh bahasa dan mengalami dunia tanpa perantara apapun , tanpa ada yang memaksa benar atau salahkah.

Entah sebuah kebetulan atau aku yang sengaja mengkait kait bacaan ini atas suasana hatiku sekarang. Petikan sajak ini didapat kala diri sedang memakai baju yang terbuat dari awan hitam.

“ Dalam bentangan sayap sembilan puluh sembilan bulu. Sepasang lelaki dan perempuan melukis kerinduan yang coba dititpkan Ilahi lewatnya. Di dalam rahim perempuan sedikit disesalinya pesona matahari yang jingga karena cepat bertandang. Bulan pun semakin pucat untuk cepat undur dari peraduannya. Bila lingkaran suci akan musnah dilingkaran. 

“Dalam sebelas kepakan. Tibalah aku pada hutan bunga itu. Seperti apakah kerinduan yang dititipkan kepadaku? Sepasang Lelaki dan Perempuan dalam rahimnya. Menyesali pesona yang mengirim matahari keperakan. Semakin pucat dalam hitungan bulan. Bila lingkaran yang disucikan sebagai pengikatan menelanjangi semua busana buana. 

“Para dewa menitipkan rasa iba pada sepuluh jari yang ditekuknya dalam setipa tangkup kuwangen tanganku. Aku telah pergi meskipun tak pernah meninggalkanmu. Awal dan akhir aku kekal dirahimmu. 
“Kulihat cahaya merah, kuning ,biru , jingga sore hari. Erang rindumu terus menyala. 
Disitu cintamu senantiasa berlabuh. Aku pergi, Tidak! Aku tidak pergi , hanya belajar menahan demam agar tajam kata di cakrawala, tak mengincarku, atau bahkan tak menikammu. 

“Kau datang dari seberang lautan atau dari lembah di pegunungan. 
Katakan itu segera padaku. Tandai dirimu seperti aku. Kutulis sajak ini sebagai pengakuan dan tanda tanda.

‘Aku bukan dari seberang lautan Atau dari lembah di pegunungan. 
Aku datang dari hatimu tempat kau akan kembali keujung waktu. Aku masih mencium wangi doaku saat kemenganan masih ditawarkan. Aku ingin mengulangnya lagi berkali kali tanpa pembatas sekalipun. Tapi bulan terlau cepat lahir, saat aku belum puas membaca gemilang khayalku, Aku belum lagi puas menghitung suka cita siasatku, Aku belum lagi puas menelanjangi kisah lontar.

Aku belum lagi puas – Tapi Gusti aku mesti menyamarkan kedukaan mata yang berkantung hitam legam. Menopang tubuhku yang seakan kian payah. Menyelimuti kerundungan jiwa yang terhimpit. Gusti dapatkan aku memejam dan memenjarakan ini. Semoga akulah yang memilih takdir atas diriku bukan takdir yang memilihku untuk berjalan dijalan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar